Showing posts with label pemikiran dan filosofi. Show all posts
Showing posts with label pemikiran dan filosofi. Show all posts

Thursday, October 4, 2007

Pria, Wanita, Laki-laki, Perempuan.

Friendster memang bisa jadi sumber inspirasi. Sudah lama saya tidak ngeblog di sini, dan hari ini ketika membuka Friendster dan melihat-lihat Bulletin Board yang biasanya disampahi dengan artikel-artikel quiz yang diisi untuk membunuh kebosanan... Saya menemukan sesuatu yang menarik.

Seorang teman membagikan artikel unik tentang pria dan cowok. Merasa sebagai pemilik jenis kelamin yang disinggung-singgung, aku tertarik dan membacanya lebih lanjut. Ini isinya.

Inilah Perbedaan mendasar antara seorang PRIA dan COWOK

P: Tahu jelas lima tahun lagi ia mau jadi apa.
C: Tidak jelas lima menit lagi ia mau berbuat apa.

P: Jago membuat wanita merasa tenang.
C: Jago membuat cewek merasa senang.

P: Bacaannya John Grisham, mainannya golf, tontonannya CNN.
C: Bacaannya FHM, mainannya bilyar, 1 tontonannya MTV.

P: Sebelum umur 30 sudah banyak uang.
C: Sebelum umur 30 sudah banyak dosa.

P: Seimbang antara penghasilan dan pemasukan.
C: Seimbang antara hutang dan pembayaran minimum.

P: Mendukung emansipasi wanita, tapi tetap membayari bon makan wanita.
C: Mendukung emansipasi wanita dengan membiarkan wanita bayar sendiri.

P: Punya akuntan, penjahit dan dokter langganan.
C: Punya salon, kafe dan bengkel langganan.

P: Meminta Anda nimbrung ngobrol kalau mamanya menelepon.
C: Pura-pura Anda tidak bersamanya jika mamanya menelepon.

P: Putus dengan pasangannya sambil berjabatan tangan dan mengakui sulitnya menjembatani perbedaan antar mereka berdua, diiringi ucapan, "Kita tetap bisa berteman selamanya."
C: Putus dengan pasangannya sambil kabur dari rumah, merokok berbatang-batang, plus ucapan, "Jangan undang aku ke pernikahanmu nanti!"

P: Mencintai wanita 10 % pada pertemuan awal dan meningkat terus.
C: Mencintai wanita 100 % pada pertemuan awal dan menurun terus.

P: Berpikir dewasa seperti orang usia 40 tahun saat berusia 17 tahun.
C: Berpikir kekanakan seperti orang usia 17 tahun saat berusia 40 tahun.

P: Bisa menang hanya dengan otak dalam konflik.
C: Cuma bisa ngamuk, adu mulut, & adu otot kalo konflik.

P: Mikirnya "Aku masih kurang pengetahuan, harus belajar lebih banyak."
C: Mikirnya "Aku yang terhebat di muka bumi, siapapun aku hadapin !!!."

P: Otak no 1, digabungin otot kalo terpaksa.
C: Otot no 1, ditambah otak kalo punya.

P: Main sepeda agar tambah perkasa.
C: Main sepeda agar dipuji wanita.

P: Klo liat ce cakep, mata melihat ke wanita itu,kemudian menatap ke depan.
C: Klo liat ce cakep, mata melihat ke wanita itu,kemudian menatap ke samping dan ke belakang.

P:Kl o ada wanita ngajak kenalan nanya namanya sapa?
C:Klo ada wanita ngajak kenalan nanya nomor HP-nya berapa? Tinggal di mana?


***

Ayo, apa respon anda setelah membaca artikel tadi? Mungkin ada yang marah, tersinggung, tertawa, dan macam-macam. Kalau saya sendiri merasa tersentak namun geli juga. Artikel yang memang ada benarnya, nyata, tapi apa yang terjadi dengan karakter pria-pria hari-hari ini sampai-sampai ada artikel sindiran seperti ini di Internet?

Wanita dalam banyak hal, kalau kita para pria mau jujur, (saya akan gunakan kata 'pria' untuk jenis kelamin jantan, dan 'wanita' untuk jenis kelamin betina) sudah banyak disakiti dan ditindas oleh kepemimpinan pria. Tumbuh dalam sebuah keluarga yang belum sempurna, saya sendiri melihat terkadang sang Ayah bertindak sewenang-wenang dalam memimpin, melupakan peran istrinya yang seharusnya ia lindungi dan juga ia dengarkan dalam mengambil keputusan. Selain itu masih banyak hal-hal lain yang terjadi dalam masyarakat yang menunjukkan bahwa wanita sering dinomorduakan dan tidak jarang diinjak haknya.

Saya bukan seorang feminis, yang percaya bahwa pria harus takluk di bawah kaki wanita, tapi saya juga bukan penentang emansipasi wanita. Saya masih percaya akan kepemimpinan pria, bahwa Sang Pencipta menentukannya demikian dari awalnya. Dan hal inipun tidak menjadikan seorang wanita kalah penting. Pria dan wanita diciptakan sama unik dan sama pentingnya, tapi Tuhan perlengkapi kita masing-masing dengan fungsi yang berbeda-beda. Bayangkan sebuah dunia tanpa pria, atau sebaliknya, mau jadi apa?

Menjadi laki-laki adalah masalah kelahiran, tetapi menjadi pria sejati adalah masalah pilihan. Secara khusus saya mau berbicara pada para pria melalui artikel ini.

Untuk menjadi seorang pria yang kuat dan benar, tentu kita perlu mendasari hidup kita dengan sesuatu. Sebenarnya, apakah yang menjadi pondasi hidup kita hari-hari ini? Pasir, ataukah tanah keras?

Banyak pria mendasarkan hidup mereka pada kekayaan, karir, otot, otak, dan hal-hal duniawi yang akan hilang. Dasar yang benar bukanlah itu semua. Kekuatan pria yang sejati terletak pada mendengar dan melakukan Firman Tuhan. Dunia ini dan segala isinya akan berlalu. Kita boleh punya otot dan perut yang keren di usia muda. Tapi di usia 60-an, siapa yang bisa membanggakan tubuh masa mudanya? Harta akan berlalu, keluarga akan hilang, bahkan hikmat akan lenyap, tapi Firman Tuhan tinggal tetap. Ingatlah selalu bahwa Firman Tuhan adalah sesuatu yang kokoh dan tidak bisa terbantahkan. Praktekkan Firman Tuhan sebagai suatu perintah. Landasi hidupmu dengan Firman Tuhan. Mulai membaca dan merenungkannya, dan jadikan Firman itu sebuah gaya hidup. Sesuatu yang kita praktekkan dengan sungguh-sungguh, didasari kasih atas Tuhan kita, di mana dari situlah akan datang kekuatan kita yang sejati.

Dan ingat teman-teman, menjadi seorang Pria Sejati adalah sebuah perjalanan seumur hidup. Bukan sesuatu yang bisa kita dapatkan dengan membaca sebuah buku atau mengikuti satu camp secara instan. Menjadi seorang Pria Sejati adalah sebuah dedikasi seumur hidup. Minta Tuhan membentuk dirimu terus menerus, minta karakter Kristus terus dipenuhi dan diperjelas dalam hidupmu. Baca terus Firman Tuhan yang hidup itu, jadikan pedoman hidupmu. Hargai wanita dengan hati yang murni, berhenti menggombali dan merayu mereka, mereka sudah lelah dan jijik dengan itu. Tuhan dan wanita menginginkan agar pria memiliki konsistensi, ketegasan, dan kekuatan.

Saya yakin banyak juga wanita yang membaca artikel ini dan memimpikan pria-pria yang dekat dengannya, entah itu teman, pasangan hidup, ayah, atau adiknya, mau berubah dan menjadi seorang Pria Sejati. Terus terang, berat bagi kami bila kami harus maju dan melangkah sendiri. Perubahan seorang pria membutuhkan kerja sama dari teman-teman pria dan wanita di sekitarnya. Wahai wanita, anda bisa membantu pria-pria di sekitar anda menjadi lebih baik, dengan menunjukkan apresiasi atas hal-hal gentle yang mereka lakukan, dengan sebuah senyuman kecil atau sekedar ucapan 'terima kasih'.

Sebuah pengalaman pribadi saya, terus terang saya agak kecewa dengan sikap wanita Indonesia dalam memberi apresiasi kepada pria. Saya pernah tinggal di Brazil selama 10 bulan. Dari negara inilah justru saya belajar lebih bagaimana menghargai teman-teman wanita saya. Menahan pintu lift, memberikan tempat duduk, dan perhatian-perhatian kecil yang seharusnya para pria berikan pada wanita, banyak saya pelajari dari tempat itu. Sepulangnya ke Indonesia, dengan tekad menjadi pria yang lebih baik, saya bawa pengalaman itu dan saya mencoba lebih lembut pada wanita-wanita Indonesia. Saya membukakan lift, menahan pintunya untuk mereka, memberikan kursi saya di bis untuk seorang ibu yang berdiri kelelahan, mengambilkan minum, yah, pokoknya saya berusaha deh!

Di Brazil, tindakan-tindakan ini akan mengupahi saya sebuah senyuman manis, ucapan terima kasih, atau bahkan sekedar anggukan santun menunjukkan apresiasi. Tapi di Indonesia, ugh, boro-boro! Wanita yang saya tahankan pintu liftnya langsung saja menyosor masuk tanpa melihat saya. Ibu-ibu yang saya berikan tempat duduk langsung saja duduk tanpa bahkan tersenyum pada saya. Orang yang saya ambilkan minum hanya akan menggumamkan terima kasih singkat bahkan tanpa melihat mata saya!!

Saya harap lewat artikel ini saya sudah berhasil mengajak teman-teman berpikir. Kadang-kadang kita (entah kita pria atau wanita) senang sekali menuntut seorang berubah. Tapi tanpa kita sadari, kunci dari perubahan itu adalah diri kita sendiri. Berapa banyak pria yang sebenarnya berusaha berbuat baik, tapi karena tidak menerima respon yang apresiatif dari para wanita kemudian jadi mundur dan malu lagi. Berapa banyak wanita yang sebenarnya ingin lebih menyayangi suaminya, tapi karena sifat suaminya yang tertutup akhirnya sang istri menjadi kikuk dan ketakutan sendiri?

Marilah kita, selain mengambil tanggung jawab atas diri kita sendiri, juga mau mengambil tanggung jawab atas saudara-saudara kita yang lain. Mulailah dari teman-teman sesama jenis. Jaga mereka. Untuk anda yang sudah merasa sudah mengerti, teruslah belajar sambil mengajar juga teman-teman yang lain. Jangan lupa, kalau kita tidak mau mengambil tanggung jawab kecil, dimulai dari diri kita sendiri, siapa lagi yang akan bertanggung jawab? Hidup adalah sebuah pilihan besar. Semua keputusan ada di tangan kita. Mari kita mengambil keputusan untuk menjadi seorang pria maupun wanita yang lebih tanggap, berfungsi, dan maksimal di dalam Tuhan.

Tuhan memberkati. Jadilah maksimal!

Tuesday, September 18, 2007

Is Happy Ending A Never?


I have been thinking these days, about all the bedtime stories that filled my childhood. About Cinderella and her glass shoes, about Rapunzel and her amazing golden hair, about Hans and Gretel and how they luckily survive the evil witch... Even about Shrek, that recent crazy new folktale.

In all those stories, everything ended happily. Although the evil might once prevail, and there seems like there was no way out, someone somewhere made mistake or came with a brilliant idea, and someone other would save the day. And then there would be a happily ever after ending.

I'm not intending of destroying the happy faces of Cinderella, Rapunzel, Pinocchio, and the Prince Charming in your head, but... Let's think of it this way. To be honest with ourselves, these kind of "happy endings" does not happen in reality. The story writers just stop at the right moment, where everything seemed happy and right, and close the story.

Cinderella got married. One day they would have children. It would be possible that rebel would happen in their kingdom, someone there would try to take over their throne, and darkness prevails again. And how about Snow White's beauty? Wouldn't it fade one day, and her Prince Charming would stop loving her?

I want to reflect this on our real life. Fairy tales are good, but we must remember, in reality there are no such things. Maybe you would say, no, I don't read any more fairy tales... I'm a grown up! Girls, especially, please, please don't use this excuse. Your fairy tales are those cheap pink girly novels about cute rebel boys that submit themselves to a girl's charm... And boy's fairy tales are modern movies, modern 'role models' such as pop-musician, actors, and 'cool people' shown on TV.

As we realize what our fairy tales are, we must reflect into reality even more, and understand the importance of seeing life the way it must be seen. We have our happy and glorious moments, but don't see it as our happily ever after. Things will change, our earth and society are dynamic, and we have to be prepared for it. Happy moments, praise God, and in difficulties, seek Him even more.

A happily ever after is not a never. It is how we reflect to things that will show us its beauty, as a Chinese saying says. A beautiful painting will not be great in front of an art-hater. A delicious food won't bloom in a full belly's mouth. But with God, we always have a choice to see the beauty life shares. Because it is in Him that we would find our joy, our strength, and our recovery. It is in Him that we may have a hope for a happily ever after.

Be blessed!

sedikit ngoceh saja.

Heiii!!

Akhirnya setelah sekitar tiga minggu saya ngepost lagi. Akan random saja sih postnya, cerita-cerita singkat tentang kesibukan apa yang sudah kulakukan minggu-minggu ini sekembaliku ke Indonesia.

Sejujurnya, aku agak capek juga minggu-minggu ini. Kembali ke Indonesia, memang aku sudah tahu bahwa akan kuhadapi yang namanya Ujian Paket C, pertarungan perebutan beasiswa, dan kesibukan hidup lainnya di kota metropolitan ini. Tapi ketika dijalani, jujur males juga. Kembali dari Brazil yang bersih, indah, dan penuh tanah ladang (oh Parana, betapa kucinta dikau!), datang ke Indonesia, yah, Indonesia.

Teringat lagi sekarang, tanggal 4 September lalu, ketika kali pertama menginjakkan kaki di tanah Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta, kesesakan udaranya sudah menyakiti paru-paruku. Ternyata udara yang selama ini aku nikmati di Jakarta ini kotor sekali! Menapak masuk pertama kali di rumahku tiga minggu lalu, astaga! Tidak bisa kubayangkan bagaimana aku selama ini bisa bertahan hidup di kotak sesak kurang ventilasi ini!

Ditambah lagi di minggu-minggu pertama tidak ada kegiatan atau perlakuan spesial yang kuterima. Boro-boro mengunjungi pertemuan Rotary Club, sponsorku, Mamaku langsung membawaku berburu beasiswa dan membetulkan laptop ke Ratu Plaza sana. Tidak boleh buang waktu, ujar beliau. Ya sudahlah.

Saat keluar masuk Metro Mini Blok M-Ciledug itu, tanpa kusadari aku membandingkan lagi Indonesia dan Brazil. Aku teringat Curitiba, dengan sistem transportasinya yang begitu bersih, sejuk, dan nyaman. Bis-bis gandeng besar berwarna oranye, dengan halte kapsulnya yang berbentuk lucu dan bersih juga. Lalu kutengok Metro Mini, bis kecil berkapasitas 50-an orang tapi sering dimampatkan hingga 70 manusia lebih di dalamnya. Dompet hilang, pengamen, kriminalitas, pengemudi yang ugal-ugalan... Ugh, jangan bicara kenyamanan lagilah. Transjakarta-pun, yang menjadi kebanggaanku warga Jakarta selama ini, ternyata adalah hasil contekan dari sebuah sistem transportasi serupa di Malaysia dan Brazil. Gubernur kita sampai terbang ke Brazil kok untuk mempelajarinya!

Bukan saya jadi anak muda kagetan, seperti kata Pak SBY yang terhormat, tatkala diprotes seorang putri Indonesia mengenai pemerintahannya yang tidak "sebagus" luar negeri. Bukan, bukan itu. Mungkin saya gerah dan sedikit shock saja, melihat kenyataan hidup di luar sana yang jauh lebih indah, jauh lebih tertata, bahkan di negara seperti Brazil yang notabene kita akan menganggapnya sebagai negara dunia ketiga. Negara tidak masuk hitungan yang (katanya) sama-sama korupnya dengan Indonesia.

Saya bingung, bagaimana di negara saya ini ada orang-orang yang seharinya harus bertahan hidup dengan uang 1-2 US$, sementara di Brazil sana uang segitu paling untuk dibelikan sekaleng bir dengan kembali tiga bungkus permen. Kalau melihat terpuruknya Brazil di masa lampau, tidak ada alasan bagi Indonesia untuk mengasihani diri sendiri!! Brazil juga pernah punya mata uang amburadul, sistem ekonomi yang acak-acakan, pemerintahan yang korup, tapi toh hari ini mereka tegak berdiri?! Kok kita ngga bangkit-bangkit sih?? Di Brazil saya temukan pendidikan gratis, pemerintah yang memperhatikan gizi rakyatnya, transportasi yang aman, air yang bersih, listrik yang stabil... Korupsi memang ada, tapi orang sana tahu malu! Korupsipun masih pada batasnya.

Sebagai warga Indonesia keturunan, saya juga memperhatikan satu budaya yang indah yang mereka miliki, yaitu tenggang rasa antar ras. Meskipun Brazil punya sejarah perbudakan dengan orang kulit hitam, tapi di sana tidak ada lagi rasisme sekarang ini. Kulit hitam, putih, kuning, merah, semua berteman dan membangun negaranya. Seorang Indonesia yang tinggal di Brazil sana menyampaikan, bahwa bahkan jika warga keturunan atau imigran ingin terlibat dalam pemerintahan atau bahkan militer, itu bukan hal yang tidak mungkin di Brazil. Bisa!! Ayo... Kenapa kita tidak mau dewasa sedikit? Ras itu kan hanya warna kulit, bentuk hidung, bentuk mata dan postur tubuh? Di dalamnya kan isinya sama semua... Betulkah?

Yah... Jadi protes politik dan sistem kalau begini caranya. Maafkan saya yah, bulan puasa begini malah bikin panas.

Tentang saya saja deh sekarang. Bulan April tahun depan saya mau mencoba kuliah ke Jepang. Jujur tentang kuliah ini masih membingungkan juga. Saya tertarik untuk ke Jepang sana... Tapi ada rasa takut tentang kultur dan budaya orang Jepang yang dari dulu, jujur, saya anggap aneh. Lagu-lagu pop modern mereka yang mencampur-campurkan Bahasa Inggris dengan Bahasa Jepang, itu terdengar menggelikan di kuping saya. Seperti tanggung saja. Bahasanya-pun tidak terlalu indah didengar, jika dibandingkan dengan Portugis atau Prancis misalnya. Ada banyak sih keuntungan saya berkuliah di universitas ini. Tempat yang bagus, fasilitas yang komplit, dan kenalan dari seluruh Asia Tenggara. Pertukaran budaya, sesuatu yang selalu saya sukai. Tapi dengan Jepangnya sendiri? Hmm... Entahlah.

Masih berdoa juga saat ini apakah ada jalan ke negara lain. Entah Australia, atau, siapa yang tahu, Brazil lagi. Hei... Tunggu dulu. Dulupun Brazil tidak kusukai. Apa mungkin aku akan jatuh cinta pada Jepang nantinya seperti cintaku pada Brazil sekarang? Mungkin, mungkin saja. Orang muda plin-plan, kata mereka.

Jadi apa kegiatanmu sekarang, Samuel? Aku sedang banyak bimbingan belajar, mempersiapkan diri untuk ikutan Paket C nanti. Tidak, tidak nembak. Saya jujur mau ikut tes. Anak Tuhan tidak boleh tembak-tembakan begitulah, tidak halal. Selain bimbel-bimbel itu... Sedikit banyak aku ikutan ke kantor orang tua, mengenal dan mempelajari sedikit sistem perusahaan kami. Tuhan sedang menolong Nice Frame, puji Tuhan.

Jalan-jalan dengan teman-teman tentu tidak dilupakan... Baru Senin lalu aku nonton hemat di Bintaro Plaza tercinta bersama teman-teman. Amanda, Anastasia, Mario, dan Rere. Wah, betapa mereka berubah!! Mungkin karena akupun berubah dalam banyak hal ya... Kusapa gadis-gadis itu dengan ciuman di pipi, ala Brazil. Agak kikuk sih, tapi biarlah. Hahaha... Sudah teman lama, makanya aku berani. Kalau sama orang baru, agak sungkan juga. Tapi bukan itu ah intinya... Maksudnya... Persahabatan itu harus dijaga teman-teman. Tidak boleh terlalu lama kita jauh dan tanpa kontak. Nantinya akan saling melupakan. Hari kemarin luar biasa sih... Apalahi setelahnya aku diantar pulang. Haha!

Yah.. Mungkin itu dulu. Sekedar supaya blogku terupdate nih, sepertinya. Hahaha... Sedang tidak ada bahan kreatif untuk dibahas. Sampai nanti lagi!

Friday, August 17, 2007

Antara Pulang dan Tali-tali Cintaku

Honestly... Yah secara memang dalam menulis sebaiknya kita jujur, meski tidak membeberkan semua fakta, aku ngga yakin apa aku benar-benar ingin pulang.

Tanggal 27 aku akan meninggalkan kota kecil Califórnia ini. Naik bis malam ke São Paulo, di mana tanggal 28-nya Kak Sinta akan menjemputku, dan kami akan menghabiskan waktu beberapa hari di sana, di kotanya. Mengenal kotanya, katanya. Lalu tanggal 2 September aku akan terbang. Terbang tinggi, terbang jauh, sampai mendarat dan dipeluk ciuman sahabat-sahabat dan keluargaku di Soekarno-Hatta, tanggal 4 September. Rencana yang sempurna.

"Aku sudah bosan di sini, Ma." "Tidak ada lagi yang bisa kulakukan." "Aku merasa hidupku tersendat." "Brasil itu dalam beberapa segi sangatlah menyebalkan."

Dalam satu bulan ini seingatku hanya itulah yang kulaporkan ke rumah sebagai berita. Kemudian Mama mengkhawatirkan keberadaanku, Papa melonjak kegirangan karena berarti kepulanganku semakin dekat, dan adikku seperti biasa selalu biasa-biasa saja reaksinya.

Tapi anehnya, semakin dekat hariku pulang, tali-tali cinta yang kulemparkan di sana-sini kini tersambut, dan mengikatku di banyak tempat. Minggu lalu kuhadiri sebuah festival country di Apucarana. Ah, manisnya teman-temanku! Begitu banyak yang menanyakan kabarku, kembali memperhatikanku, memeluk dan melilitku dengan perhatian mereka. Kemarin aku ada di Apucarana, menonton Ratatouille bersama beberapa teman. Filmnya lucu, tapi bukan itu yang istimewa. Saat kami duduk bersama setelah film, menikmati sandwich dan bertukar kata-kata, kembali tali cinta itu menarik keras hatiku. Wajah-wajah sedih itu, rengutan manis dari teman-teman wanitaku... Ah Tuhan, sekarang aku mengerti apa yang Zulaika katakan ketika dia ingin "membawa orang-orang Brasil ini ke Indonesia"!

Friends. Amigos. Teman-teman. Aaaghh!!

Mengapa justru di hari-hari terakhir aku merasa dicintai? Mungkinkah karena aku lebih sering keluar rumah, bertemu lebih banyak orang di hari-hari terakhir ini, dan semakin banyak teman-teman yang "mencintaiku kembali"? Mungkinkah dalam pergaulan orang-orang Brasil ini, yang terpenting hanyalah kesan pertama dan kesan terakhir? Banyak "teman-teman"ku yang kukenal tidak lama, bahkan kami hanya pernah bertemu satu kali, dan ketika kuminta ia menandatangani bendera Brazilku, dituliskannya, "Samuka, grande amigo... meu irmão... uma pessoa super legal..." yang artinya, "Samuel, teman baikku... saudaraku... seorang yang sangat keren..." yang tentu gw baca dengan girang, tapi dalam hati, wadehel...

Kalau memang itu yang terjadi di tempat ini, tidak ada seorangpun di Brasil yang pernah merasakan persahabatan sejati! Bersahabat bagi mereka adalah kedekatan dengan kata-kata manis, yang dipererat dengan pesta-pesta dan berkaleng-kaleng bir. Oh ya, aku yakin ada saja yang benar-benar bersahabat sepertiku di Indonesia dengan sahabat-sahabatku, misalnya, tapi mungkin merekalah minoritasnya.

Teringat kembali juga hal lain, dua hari yang lalu, Ana Paula, saat kami baru keluar dari bioskop, ia bercerita pada kami semua. "Kalian tahu sejak kapan aku tahu Samuel itu orangnya keren?" Dalam hati aku tidak tahu jawabannya. Rasanya persahabatan dan "kekerenan" seorang teman itu tidak bisa dikatakan dengan "sejak kapan" deh. Tapi Ana melanjutkan. "Saat aku kehilangan anjingku, lalu kami ngobrol di Internet dan dia menghiburku dengan cerita lucu tentang anjingnya yang kutuan dan lalu dijual papanya... yang akhirnya dimasak sama yang beli." Well tentu saja tidak sevulgar itu dia berbicara. Kuterjemahkan bebas agar mudah dimengerti.

This is Ana. Ana and the King. Halah halah...

Nah, point-nya di sini... Betapa mudahnya membuat gadis-gadis kaukasian ini terkesan, bila demikian?! Lakukan sesuatu yang manis, hibur mereka di saat yang tepat, dan mereka akan katakan, "kau keren." Entah merekanya yang terlalu polos atau gadis-gadis Indonesia yang menuntut terlalu banyak.

Well, oke. Cukup cerita tentang "cara bersahabat" mereka yang unik di tempat ini. Kembali ke topik awal tadi... Di samping aku merasa berat hati untuk pulang, tapi aku juga tahu banyak tantangan dan hal-hal baru yang menantiku di Indonesia untuk kutaklukkan... Tapi meninggalkan mereka yang kucintai di sini benar-benar membuatku pusing kepala. Hmmm... Tapi tetap aku mesti pulang kan? Kursi di pesawat sudah ditandai, tiket bis ke São Paulo tinggal dibeli... Yah Sam, nikmatilah saja sisa hari ini. Sambil tetap membawa kasih Kristus tentunya. Carpe diem.

Thursday, August 16, 2007

united.in.brazil.


About three weeks ago, on the 28th of July, Hillsong United began their tour in South America. Their first destination was Brazil, coming here the second time, according to what my friends said. Their first destination was Sao Paulo, a huge city which is kinda close to my city here in Brazil, about six hours by car.

I, as... Hmm... can I say "fans"? Well it is some Christian band, and we can't make idol out of anything except Christ. Hahaha... Well.. let's just say supporter. I have been listening Hillsong Church's music for a long time, since Darlene was still a young woman, she still jumped high, and United was still an embryo. So I kinda know a lot about this church and their growth, and of course, their quality of music.

Well I could talk about Hillsong this whole post, but it wasn't the purpose of my writing this time. I am doing a small, a little out dated report about the concert.

I got the ticket for this concert about like, a month before. Brazilian are, when they are crazy about something, they are really crazy about it. OBSESSED. About three or four months before the show, there were already an official website, bunch of fan communities in orkut, Brazil's myspace, where people talk and discuss fan matters, like, does Joel Houston really looks like He-Man and have eyes like fish, is Marty Sampson coming with the United team for this tour, and really many others insignificant (for me) fan matters. It just doesn't feel right for me, I mean, this United thing is not exactly a band, and they are touring around the world is not exactly looking for fans and popularity - although it helps them a lot - but they are traveling around the world to see God call His people back to Him. It's totally not about them, it's about Jesus Christ. I hope these crazy fans' eyes will be opened one day.

So anyway, day 27th, at night, we all went off for our journey to Sao Paulo. There were me, Marcio, Denise, Chico, Camila, and Camila's mother, that made six of us. We went with a van from Londrina, embarking about midnight.

In front of our van, before embarking.

The travel was bumpy in many places, was also cold and tiring, and we went resting in one or two places. Approaching Sao Paulo, about two o'clock in the morning, a police officer stopped us. We were all scared, thinking of the worst to happen, but funny thing was, the police only needed a ride. We agreed to take him to Sao Paulo. "Ajuda com sua segurança tambem," he said. "Helps with your safety too."

It was not because we gave the police officer a lift, of course, but our safety was secured. God was with us. Arrived safely and early in Anhembi Arena, about 7 o'clock in one really foggy and cold morning. To my disbelief, there were already people there, queuing for the line. We stopped and talk, and some even more shocking news, some told us that they've been there since 11 o'clock last night. That is so.. crazy. And it's not that they're crazy about Jesus, I'm sure. They're crazy about the band.

So, seeing there were yet no massive queue formed at the arena, we decided to clean up and freshen up at the mall. We went to Central Norte, a huge mall close to the Anhembi Arena. I had the video, if only the incident with my second host brother that involves the lost of my 1.5 GB of photos and videos didn't happen, I could've shown you the video. But well... What's lost it lost, right?

Well, everybody got freshened up, we went around the mall a little bit, did some shopping (I bought this cool red t-shirt for 25 R$), and finally at lunch time we ate at the foodcourt. It was super expensive. I wasted about 20 R$ for a plate of meal and a glass of sweet tea. Yeah, imagine Jakarta's mall, only with stronger money value.

After lunch, we went back to the arena at about two o'clock. The band was having a check-sound, and it animated me and Camila to be quickly stand on the line. But to my surprise again, there were already this huge line of people, forming about 300 meters. We walked so far from the gate to finally meet the end of the line.

At the line, many things happened. United we stood, united we thirsted, united we hungered, and got tired, from about 2 until 6 PM. The gate was to be opened at 4, but for some reasons, it wasn't opened until 6 PM. And standing there, we talked to many people, found people that are yet even crazier about the band rather than Jesus. They talked about Joel, Marty, and JD as if they were gods, and most of this disappoint me. If United said that the greatest crowd, the most animated ones they found in Brazil, I would say that probably this is because the people are animated about the band, not about Jesus. I didn't find any of these people standing in line maintaining their attitude, some even yell out in anger and frustration when the gate were not being opened, rubbish were being thrown to the ground and traffic are disturbed. No offense to Brazilian United fans, but their attitude is totally different than the polite attitude shown by Indonesian in the United concert last year.

I got to know a Bolivian family. The mother was a Bolivian, and the father (who wasn't there) was a Brazilian. They went to Singapore to study, and their children speaks amazing English. I made friend with Oneide, their oldest daughter, a very nice girl with a godly attitude. This family had this passion about building their own church, and is praying that God will provide everything they needed. It's always amazing to see people that are totally walking in faith.

I also talked to the security guy, through the wall bars. Commented about the members of the United band, he said Jad Gillies is the most annoying one. Putting on serious face all the time, not willing to sign autograph for him, the security guy was so disappointed. On the other hand, he said Joel Houston shown the most sympathy. They talked a lot, shared about church ministry and the band. But yeah, people are different. Maybe Jad is the serious one, and Joel is the happy one, and JD is the mad one, but all of them serve the same God and bear the same purpose.

Well... I'll just skip to the gate opening. As we began to walk into the arena, it started to rain. People bought rain caps, which were only 5 R$ for 2, now they sell it for 1 only. It's amazing how need and money contradicts at this point. We however, bought the cap long before the rain.

The arena was full, large, and open air. It was raining, really cold, and there were fog in the air. But when the band started to play, everything went fun, everyone got heated up and forgot all that.

United started again with the classic Introduction + The Time Has Come. This is cool but in the same time I guess it's disappointing, because it's been like two years must be now, and they should have find a new creative way to start a show. But it was still hip though. People were crazily animated.

We jumped from song to song, then Jad started the worship session with Take All Of Me. All of a sudden, singing this song and taking to heart, I felt a huge mass of presence of God. All of a sudden I felt so alone. Lose all the music, the fans screaming, and even the song, and it's all just me and God.

I think that is indeed the core of worship. It's not about the music, the band, a good song, or even singing itself. Worship is a life that glorifies God, no matter what happen in it. You could worship in the midst of happiness, you could worship in the rain of blessing, but you must more importantly worship through the storm of desperation.

Yeah, to say it short, the rest of the night was awesome, just like every United concert. The worship was marvelous. I felt that day like I found again the reason for living. Like I found again the braveness to stand up for Jesus, to be a difference in my community and daily life. To be a Christian is to be a brave generation, said Phil Dooley. I sure hope many Brazilian will receive the message too, as a brother from Indonesia I really want to see God's movement going on strong through the whole world.

Some shots from the night. It was raining heavily, yet amazing to see all these people gather together for Jesus.

So yeah, the night was great. The concert ended about 11 PM, with three encore songs and a guitar sorting. We didn't participate because we didn't have a pen to write the sorting ticket. Silly, huh. =)

Then we took off. I visited the United stand at the back of the auditorium, bought a T-Shirt, Phil Dooley's teaching CD, and got some information about the Hillsong College. About this last item, honestly, it really interest me a lot to get inside this Hillsong World... to learn from them, to serve with them, and then to bring the knowledge I would get there back to Indonesia. But it's still a thought. I really need to pray more about my future.

So then we go on the van. Another 6 hours journey through the night to get back to our cities. Honestly, I feel blessed, but in the same way I felt sad. I really know that if I go to this concert with my youth friends in Indonesia, in many ways we will reflect on our Christian lives, get something different for our youth group, and be more creative. No offense, but it seems like all that the people in my group paid attention to that day was why Marty Sampson wasn't coming.



But still, this concert was a 10. I really want to be a part of something big like this one day. Faithful, to say? Yeah, sort of. God, thank you for this heart-changing experience. I love You.

Friday, August 10, 2007

"Papa Baca yang Keras ya..."

Pada suatu malam Budi, seorang eksekutif sukses, seperti biasanya sibuk memperhatikan berkas-berkas pekerjaan kantor yang dibawanya pulang ke rumah, karena keesokan harinya ada rapat umum yang sangat penting dengan para pemegang saham. Ketika ia sedang asyik
menyeleksi dokumen kantor tersebut, Putrinya Jessica datang mendekatinya, berdiri tepat disampingnya, sambil memegang buku cerita baru.

Buku itu bergambar seorang peri kecil yang imut, sangat menarik perhatian Jessica, "Pa liat!" Jessica berusaha menarik perhatian ayahnya. Budi menengok ke arahnya, sambil menurunkan kaca matanya, kalimat yang keluar hanyalah kalimat basa-basi "Wah, buku baru ya Jes?",
"Ya papa" Jessica berseri-seri karena merasa ada tanggapan dari ayahnya. "Bacain Jessi dong pa" pinta Jessica lembut,
"Wah papa sedang sibuk sekali, jangan sekarang deh" sanggah budi dengan cepat. Lalu ia segera mengalihkan perhatian nya pada kertas-kertas yang berserakkan didepannya, dengan serius.

Jessica bengong sejenak, namun ia belum menyerah. Dengan suara lembut dan sedikit manja
ia kembali merayu "pa, mama bilang papa mau baca untuk jessi"
Budi mulai agak kesal, "Jes papa sibuk, sekarang Jessi suruh mama baca ya"
"pa, mama cibuk, terus, papa liat gambarnya lucu-lucu", "Lain kali Jessica, sana! papa lagi banyak kerjaan"
Budi berusaha memusatkan perhatiannya pada lembar-lembar kertas tadi, menit demi menit berlalu, Jessica menarik nafas panjang dan tetap disitu, berdiri ditempatnya penuh harap, dan tiba -tiba ia mulai lagi. "pa,.. gambarnya bagus, papa pasti suka", "Jessica, PAPA BILANG, LAIN KALI !! " kata Budi membentaknya dengan keras. Kali ini Budi berhasil, semangat Jessica kecil
terkulai, hampir menangis, matanya berkaca-kaca dan ia bergeser menjauhi ayahnya " Iya
pa,. lain kali ya pa?" Ia masih sempat mendekati ayahnya dan sambil menyentuh lembut tangan ayahnya ia menaruh buku cerita di pangkuan sang Ayah. "pa kalau papa ada waktu, papa baca keras-keras ya pa, supaya Jessica bisa denger"

Hari demi hari telah berlalu, tanpa terasa dua pekan telah berlalu namun permintaan Jessica kecil tidak pernah terpenuhi, buku cerita Peri imut, belum pernah dibacakan bagi dirinya. Hingga suatu sore terdengar suara hentakan keras "Buukk!!" beberapa tetangga melaporkan dengan histeris bahwa Jessica kecil terlindas kendaraan seorang pemuda mabok yang melajukan kendaraannya dengan kencang didepan rumah Budi.

Tubuh Jessica mungil terhentak beberapa meter, dalam keadaan yang begitu panik ambulance
didatangkan secepatnya, selama perjalanan menuju rumah sakit, Jessica kecil sempat berkata
dengan begitu lirih "Jessi takut pa, jessi takut ma, Jessi sayang papa mama."
darah segar terus keluar dari mulutnya hingga ia tidak tertolong lagi ketika sesampainya di rumah sakit terdekat.

Kejadian hari itu begitu mengguncangkan hati nurani Budi, Tidak ada lagi waktu tersisa untuk memenuhi sebuah janji. Kini yang ada hanyalah penyesalan Permintaan sang buah hati yang
sangat sederhana pun tidak terpenuhi. Masih segar terbayang dalam ingatan budi tangan mungil anaknya yang memohon kepadanya untuk membacakan sebuah cerita, kini sentuhan itu terasa sangat berarti sekali, "...papa baca keras-keras ya pa, supaya Jessica bisa denger" kata-kata jessi terngiang-ngiang kembali.

Sore itu setelah segalanya telah berlalu, yang tersisa hanya keheningan dan kesunyian hati, canda dan riang Jessica kecil tidak akan terdengar lagi, Budi mulai membuka buku cerita peri imut yang diambilnya perlahan dari onggokan mainan Jessica di pojok ruangan. Bukunya
sudah tidak baru lagi, sampulnya sudah usang dan koyak. Beberapa coretan tak berbentuk
menghiasi lembar-lembar halamannya seperti sebuah kenangan indah dari Jessica kecil.
Budi menguatkan hati, dengan mata yang berkaca-kaca ia membuka halaman pertama dan membacanya dengan sura keras, tampak sekali ia berusaha membacanya dengan keras, Ia
terus membacanya dengan keras-keras halaman demi halaman, dengan berlinang air mata.

"Jessi dengar papa baca ya" selang beberapa kata, hatinya memohon lagi, "Jessi papa mohon ampun nak, papa sayang Jessi"

Seakan setiap kata dalam bacaan itu begitu menggores lubuk hatinya, tak kuasa menahan itu
Budi bersujut dan menagis, memohon satu kesempatan lagi untuk mencintai.

Seseorang yang mengasihi selalu mengalikan kesenangan dan membagi kesedihan kita, Ia selalu memberi PERHATIAN kepada kita, karena ia Peduli kepada kita.

ADAKAH "PERHATIAN TERBAIK" ITU BEGITU MAHAL BAGI MEREKA?

BERILAH "PERHATIAN TERBAIK" WALAUPUN ITU HANYA SEKALI

Bukankah Kesempatan untuk memberi perhatian kepada orang-orang yang kita cintai itu sangat berharga ?

DO IT NOW

Berilah "PERHATIAN TERBAIK" bagi mereka yang kita cintai LAKUKAN SEKARANG !! KARENA HANYA ADA SATU KESEMPATAN UNTUK MEMPERHATIKAN DENGAN HATI KITA

Tuhan memberkati.

Thursday, August 9, 2007

A Nice Story

Beberapa tahun yang lalu, sekelompok
salesmen menghadiri pertemuan sales di
Chicago. Mereka telah meyakinkan
istri-istri mereka bahwa mereka akan
mempunyai cukup waktu untuk makan malam
bersama di rumah pada hari Jumat.

Namun, manager sales menghabiskan lebih
banyak waktu daripada yang telah
diperkirakan dan pertemuan berakhir
lebih lambat daripada yang telah
dijadwalkan. Akibatnya, dengan tiket
pesawat dan tas mereka di tangan, mereka
berlari menerobos pintu airport,
tergesa-gesa, mengejar penerbangan
mereka pulang. Ketika mereka sedang
berlari-lari, salah satu dari para
salesman ini tidak sengaja menendang
sebuah meja yang digunakan untuk menjual
apel. Dan apel-apel itu beterbangan.

Tanpa berhenti atau menoleh ke belakang,
mereka semua akhirnya berhasil masuk ke
dalam pesawat dalam detik-detik terakhir
pesawat itu tinggal landas.

Semua, kecuali seorang. Dia berhenti,
menghela napas panjang, bergumul dengan
perasaannya lalu tiba-tiba rasa kasihan
menyelimuti dirinya untuk gadis yang
menjual apel. Ia berkata kepada

rekan-rekannya untuk pergi tanpa
dirinya, melambaikan tangan, meminta
salah satu temannya untuk menelpon
istrinya ketika mereka sampai di tempat
tujuan untuk memberitahukan bahwa ia
akan mengambil penerbangan yang berikutnya.

Kemudian, ia kembali ke pintu terminal
yang berceceran dengan banyak sekali
buah apel di lantai.

Salesman ini merasa lega ketika ia tiba
disana. Gadis yang berumur 16 tahun ini
buta! Gadis tersebut sedang menangis
sesegukan, air matanya mengalir turun di
pipinya, dan gadis itu sedang berusaha
untuk meraih buah-buah apel yang
bertebaran diantara kerumunan
orang-orang yang bersliweran
disekitarnya, tanpa seorangpun berhenti,
ataupun cukup peduli untuk membantunya.

Salesman itu berlutut di lantai
disampingnya, mengumpulkan apel-apel
tersebut, menaruhnya kembali kedalam
keranjang dan membantu memajangnya di
meja seperti semula. Seketika itu, ia
menyadari bahwa banyak dari apel-apel
itu rusak, dan ia mengesampingkan apel
yang rusak
kedalam keranjang yang lain.

Setelah selesai, pria ini mengeluarkan
uang dari dompetnya dan berkata kepada
si gadis penjual, "Ini, ambillah Rp.
200.000 untuk semua kerusakan ini.
Apakah kau tidak apa-apa?"
Gadis itu mengangguk, masih berlinang
air mata.
Pria itu melanjutkan dengan berkata,
"Saya harap kita tidak merusak harimu
begitu parah."
Ketika pria ini mulai beranjak pergi,
gadis penjual yang buta ini
memanggilnya, "Tuan..."
Pria ini berhenti, dan menoleh ke
belakang untuk menatap kedua matanya
yang buta.
Gadis ini melanjutkan, "Apakah engkau
Yesus?"
Ia terpana. Kemudian, dengan langkah
yang lambat ia berjalan masuk untuk
mengejar penerbangan berikutnya. Dan
pertanyaan itu terus menerus berbicara
didalam hatinya, "Apakah kau Yesus?"

Apakah orang-orang mengira engkau Yesus?
Bukankah itu tujuan hidup kita?

Untuk menjadi serupa dengan Yesus
sehingga orang-orang tidak dapat melihat
perbedaannya ketika kita hidup dan
berinteraksi didalam dunia yang buta dan
tidak mampu melihat kasih, anugrah dan
kehidupanNya..

Jika kita mengakui bahwa kita mengenal
Dia, kita harus hidup, berjalan, dan
bertindak seperti Yesus. Mengenal Yesus
adalah lebih dalam daripada hanya
sekadar mengutip kata-kata dari Alkitab
dan pergi beribadah di gereja. Mengenal
Yesus adalah menghidupi FirmanNya hari
demi hari.

Anda adalah seperti buah apel tersebut
di mata Allah, meskipun kita rusak dan
menjadi cacat ketika kita terjatuh.
Allah berhenti mengerjakan apa yang
sedang Ia kerjakan, mengangkat Anda dan
saya ke suatu bukit yang bernama Kalvari
dan membayar penuh semua kerusakan kita.

Mari mulai jalani hidup sesuai dengan
harga yang telah dibayarkanNya.

Friday, August 3, 2007

2&3 Agustus 2007 - Belajar Lagi

Hari sekolah berakhir seperti semua hari biasa. Pulang, lalu makan siang, kali ini tidak ditemani siapa-siapa. Sepertinya aku berada di rumah yang seisi keluarganya punya urusan sendiri-sendiri. Semua dimulai, seperti dari semua keluarga, dari si Bapak. Nivaldo suka sekali dengan komputer. Kalau tidak di komputer, di rumahnya, ia akan keluar rumah. Bahkan keluarga Itamar yang sering rusuhpun masih ada saat-saat "kebersamaan" keluarga di depan TV. Tapi di sini tidak, ah, belum kurasakan itu.

Pulang sekolah, José kecil ajak aku ke kantor Papanya dan ke toko neneknya. Seluruh keluarga ini bekerja keras! Sampai di kantor walikota, tempat Nivaldo bekerja, aku diperkenalkan pada orang-orang di sana. Semua antusias. Aku sampai diajak foto sang walikota (yang memang sudah kukenal lewat Rotary), duduk di meja kerjanya. Sekarang aku bisa juga bilang, "bapakku pegawai negeri."

"Duduk di kantor bapak."
Aduh... Kayak kalimat-kalimat di buku-buku PPKn jaman dulu aja...

Foto bareng walikota Califórnia.

Duduk di kursi walikota. Biarpun kota kecil juga...
Tapi waah, mimpi apa gw semalem?

Masih di kantor walikota, bersama beberapa warga yang berkunjung untuk ngobrol.
(Tuh, walikota bisa diajak ngobrol! Bang Yos, ayo kapan mau kayak begitu?)


Di rumah kakek & nenek (pasangan kakek nenekku yang ketiga tentunya), aku lihat toko & bagian dalam rumahnya, yang ternyata jauh lebih besar dari apa yang nampak dari luar. Semua tinggal di lantai dua (karena lantai satunya adalah sebuah toko serba ada), dan masih ada tanah kecil di belakang, tempat berkebun. Ketemu seorang tante baru di sana, yang ternyata seorang Kristen.

Lalu pulang. Di rumah, berita yang disampaikan Mãe Marilisa menyambarku seperti petir di siang bolong: Folder fotoku, file-file gambar pentingku dari awal tahun, yang sengaja kutinggalkan di komputer keluarga keduaku untuk kuambil nanti, dihapus oleh adikku dari keluarga kedua. Bukan main marahnya diriku saat itu. Mengapa harus dihapusnya? Mengapa dia tidak menungguku datang, atau paling tidak menanyakan dulu apakah file itu masih kuperlukan? Segitu penuhnya-kah hard disknya sehingga dia harus menghapus file-file pentingku yang hanya akan menyesakkan komputernya selama, paling tidak, dua atau tiga hari?

Yah, singkat cerita, siang itu dalam campuran perasaan marah, takut, dan sedih, aku berlari ke Orion Computer, satu-satunya toko komputer di Califórnia, dan memohon bantuan Juliano, sang pemilik toko, untuk menyelamatkan file-file yang hilang itu. Katanya, ada programnya, tapi besok. Jadi hari itu, aku menanti. Memang mustahil mendapatkan semuanya kembali, tapi setidaknya aku berharap aku tidak akan kehilangan semua gambarku.

Lalu yah, datang waktu marah, datang waktu perenungan. Kata Tuhan, "Nak, yang hilang kan fotomu, bukan kameramu? Untuk apa memusingkan beberapa potong masa lalu jika itu malah merusak hubunganmu dengan masa kini?"

Tapi tetap terasa kurang adil. Dalam dua hari kenyamananku di keluarga kedua direnggut, aku harus memulai hubungan keluarga dari awal lagi, dan sekarang foto-fotoku hilang. Ah, tapi aku yakin ada yang Tuhan ingin aku pelajari dari hal ini. Sebagai anak-anak Allah, masa lalu, masa kini, dan masa depan kita adalah milik-Nya. Serahkan hak. Tidak ada lagi yang boleh kita klaim, sebab semakin kita menyerahkan diri kita menjadi milik Kristus, semakin hilanglah diri kita, dan semakin bertambahlah diri-Nya. Segala yang tidak kekal tidak perlu kita perdebatkan dan perebutkan. Termasuk foto-foto masa laluku. Rebutkan foto dan kehilangan kesempatan memberitakan kasih Kristus pada keluarga ini? Iblis, aku tidak bisa kau tipu lagi. Bersama Tuhan aku benar-benar kuat menghadapi SEGALA SESUATU. Amin. Aku LEBIH DARI PEMENANG.

***
Tambahan:

Sore hari setelah aku mendapatkan kabar mengejutkan tentang hilangnya foto-fotoku, adik baruku José kecil berumur 9 tahun, ngotot mengajakku berjalan ke Bosque, sebuah taman kota di ujung California. Taman yang sebenarnya sudah tidak terawat lagi, tapi karena "cintanya akan alam", José ngotot ingin pergi ke sana.

Kata orang, anak kecil benar-benar egois. Tidak bisa mengerti kepentingan orang lain, dan hanya memikirkan keinginannya sendiri. Hari itu aku mengerti apa yang dimaksudkan kalimat itu. José kecil sama sekali tidak memikirkan bahwa aku sangat sedih, kehilangan begitu banyak foto dan video, dia tetap saja pasang tampang ceria dan menyebalkan (bagiku), dan meskipun aku jelas-jelas menunjukkan wajah merengut sepanjang kami berjalan di taman jelek itu, dia tetap ceria dan melompat-lompat ke sana kemari.

Puji Tuhan, akhirnya aku bisa membuka hati dan mencoba bersenang-senang. Kupikir tidak ada untungnya juga bila sore itu aku bersedih. Akhirnya kami mendapatkan beberapa foto bagus sore itu, dan acara jalan-jalan sore kami berakhir cukup menyenangkan.


Yeah, the great outdoors...

***

Dan yah, itu kemarin. Sekarang tanggal 4 Agustus, dan aku akan menambahkan apa yang terjadi tanggal 3 Agustus, sehari setelah file-file fotoku dihapus.

Pulang sekolah, makan siang, aku langsung pergi ke Orion Computer. Di sana Juliano sudah ada, tapi entah mengapa ia berlama-lama, meninggalkanku ngobrol dengan salah satu teknisinya. Seolah ia tidak tahu betapa banyaknya foto yang terhilang, seolah bukan sesuatu yang penting baginya. Aku menunggu setengah jam di tokonya untuk mendapatkan sebuah software kecil, dan pada akhirnya masih lagi membayar sekitar sepuluh ribu rupiah untuk software gratisan yang bisa aku download dari internet.

Tuhan mengajarku tentang kesabaran.

Setiba di rumah keluarga keduaku, terlihat sang tersangka, penghapus fileku terduduk tenang di depan komputer, menikmati sebuah game dan bahkan tidak menengok menyapaku ketika aku datang. Ia masih bisa menyuruhku menunggunya menyelesaikan permainannya. Setelah giliranku tiba, dan aku memasang software penyelamat itu, masih ia duduk di dekatku, nempel-nempel sok tahu, bahkan berani-beraninya mengajariku cara menggunakan software yang tidak pernah dilihatnya. Meskipun hari itu kudengar kata maaf keluar dari mulutnya, tetap sikapnya tidak menunjukkan penyesalan yang berarti. Ia bolak-balik dari dapur ke komputer, mengambil makanan dan lalu duduk, seolah-olah tidak sabar menantiku selesai. Sampai dalam hati aku bingung, keluarga macam apa yang bisa menghasilkan anak tidak tahu diri seperti ini?

Tuhan mengajarku tentang kesabaran.

File yang kucari tidak kunjung kutemukan. Program-program sudah dijalankan, bahkan ku-download program tambahan dari internet, tetap tidak ada tanda-tanda dari 1 GB lebih foto dan videoku, seolah-olah mereka tidak pernah ada di komputer itu. Frustrasi, dengan seorang anak tidak tahu diri terus-terusan duduk di dekatku dan tetap berusaha mengajariku apa yang mesti kulakukan, benar-benar hanya Tuhan saja yang memberiku kekuatan menghadapi situasi itu dan tidak marah.

Akhirnya hari semakin sore, dan sampai Juliano sendiri turun tangan membantu. Tidak juga kami temukan file-file yang hilang itu. Adikku, sang penghapus file, entah mengapa menarik diri dengan keberadaan Juliano. Mungkin malu karena Juliano jelas-jelas menyinggung namanya terus-terusan, mungkin juga ia ada urusan lain. Tapi sore itu ekspresi malu mulai terlihat di wajahnya. Ia segan denganku.

Dan tetap, file tidak bisa kutemukan. Foto-foto dan video-videoku, memori-memoriku akan hal-hal yang terjadi dalam hidupku dari awal tahun 2007 di Brazil ini, semua hilang.

Tuhan mengajarku tentang kesabaran.

Lalu Mãe datang. Benar-benar kekuatan dari Tuhan hari itu, aku bisa tetap tenang dan memilih bersukacita. Dengan wajah tenang dan tersenyum, aku bisa menghadapi kegugupan Mãe, dan membicarakan dengan kepala dingin bagaimana cara mendapatkan kembali foto-foto yang hilang tersebut dengan memintanya ke teman-temanku yang lain. Kami berbicara tentang file-file yang terhilang, foto-foto apa yang bisa diminta ke tempat lain, difoto ulang, dan yang benar-benar terhilang. Puji Tuhan, aku tetap tenang hari itu. Kami selesaikan pembicaraan itu dengan enak, Mama bahkan bikinkan aku mingãu (sup kental coklat manis dicampur tepung jagung), kami duduk ngobrol bersama, dan sukacitaku tetap ada di hatiku.

Sebelum aku pulang, aku bisa menutup dengan pesan pengampunan, "Pai, Mãe, tolong bilang ke adikku kalau aku sudah baik-baik saja, tidak perlu ia merasa tidak enak lagi." Mereka tersipu dan hanya bisa tersenyum.

Tuhan mengajarku tentang kesabaran dan kekuatan mengampuni.

Di awalnya, aku merasa tidak ada kerugian yang lebih parah daripada kehilangan foto-foto itu. Aku merasa aku akan sangat marah, tidak akan sanggup memaafkan, dan akan kecewa berat atas hilangnya foto-foto itu. Tapi, aku serahkan semua pergumulan hatiku, kecewaku, juga marahku kepada Tuhan. Meminta Ia memanggul-Nya. Dan yang kudapatkan adalah kekuatan. Bayangkan betapa sakitnya menanggung hilangnya 1,5 GB foto dan video, di tahun pertukaran siswamu, tanpa penghiburan dari Tuhan? Puji Tuhan, aku hanya kehilangan foto-foto itu, dan tidak perlu kehilangan simpati dan kasih dari keluarga keduaku.

Sekarang aku mengerti apa itu mengampuni. Apa itu kehilangan sesuatu yang berharga dan masih bisa tetap tersenyum dan berkata, "ya, tidak mengapa."

Terima kasih Tuhan. Aku benar-benar lebih dari pemenang bersama Engkau.

2 Agustus 2007 - Anti Conformity

Kemarin akhirnya aku pindah rumah ke keluarga ketiga. Malasnya bukan main, sesudah pulang sekolah, makan siang, aku harus membereskan barang-barangku, memasukkannya ke dalam kotak-kotak lagi, merapikan di sana-sini, tapi untungnya Mãe membantuku. Ah, kusadari barang-barangku banyak sekali! Kaos-kaos terutama, banyak yang tidak pernah kukenakan. Celana-celana kain tidak terpakai, celana dalam yang sepertinya terlalu banyak, rompi yang tidak tersentuh, dll.

Dan yang paling parah, buku-buku! Mungkin ada 5 kg sendiri satu dus buku-bukuku! Yah, pastinya aku akan jadi seorang pemberi yang baik di hari kepulanganku nanti.

Juga kubereskan file-file di komputer, ku-burn CD-CD berisi musik & foto-foto, yah, 'menghapuskan' jejakku dari rumah itu. Di tengah-tengah kesibukanku sore itu, Mãe Marilise (oh God, she's a really sweet woman!) masih menyempatkan mengajakku foto.

Beres-beres, berantakan, capek, dan dibongkar lagi nantinya. Ugh...

sama Isadora, tetanggaku.

Giovanna and Julia, the two sweetest sisters you can get!!

Casturina, my heroine. She washed my clothes, pants, shoes, and everything. I'd be 'kewalahan' without her.

"Mommy, I love you!!"

Dan akhirnya pukul 5.30 sore lebih 2 menit, keluarga ketigaku datang menjemput. Nivaldo dan Marilisa, orang tua terakhirku di negara berbendara hijau kuning biru ini.

Rumah mereka sangat kecil, tapi rapi. Aku akan tidur dengan José, adik kecilku. Tas-tas yang sudah kupak rapi-rapi, kubongkar kembali. Kaos-kaos kukeluarkan lagi, kardus-kardus dibuka lagi, dan jejak-jejak yang sudah kuhapuskan dari rumah kedua, kini kukuaskan lagi di rumah baru.

Terulang kembali pula proses pengenalan. Seperti apa Indonesia, cara kami makan di sana, dan yang belum tapi pasti akan ditanyakan, tentang keluargaku. Kalau dipikir-pikir bisa kesal dan lelah juga, tapi mengingat tugasku sebagai seorang duta muda negara, memang inilah yang harus kulakukan. Aku tidak di sini untuk kenyamananku. Satu kali aku mulai merasa nyaman di satu keluarga, aku harus pindah. Mungkin itu juga yang Rotary inginkan, supaya aku tidak pernah merasa aman dan lalu jadi kurang ajar, malas, bersantai, dan melupakan misiku.

Apa refleksinya tentang ini dengan kehidupan rohaniku ya? Yah, rasanya aku mengerti. Dalam menjadi seorang duta besar kerajaan Surga, kita seharusnya tidak pernah boleh merasa nyaman di dunia ini. Dunia yang bukanlah tanah air kita, karena kita berkebangsaan tanah surgawi. Sebelum semua orang tahu tentang kasih Kristus, tentang cinta-Nya yang besar untuk semua orang, kita tidak boleh beristirahat. Sebelum kita kembali kepada-Nya, jangan pernah merasa tenang, apalagi merasa sudah berbuat cukup. Terus berlari, dan kejar mahkota kemuliaan itu.

Wednesday, August 1, 2007

1 Agustus 2007

Kemarin malam, keluargaku mengajakku makan di sebuah churrascaria. Makan malam perpisahan, katanya. Churrascaria berasal dari kata churrasco = barbekyu, yang bila diterjemahkan bebas oleh Samuel dapat diartikan sebagai tempat makan barbekyu.

Sekitar jam 7 malam, sebelum berangkat, semua ngumpul di ruang keluarga, dan aku diberi kejutan. Ah, mereka membelikanku CD original Cesar Menotti & Fabiano! Senangnya.

Kami lalu berangkat, dan CD baruku disetel di stereo mobil. Entah mengapa mendengar kedua duet ini bernyanyi selalu membangkitkan semangatku. Rasanya yang lainnya di mobil malam itu juga berpikiran sama. Kami bernyanyi sepanjang jalan, dari Califórnia ke Arapongas.

Mãe Marilise, di tengah jalan berkata, harapannya bahwa aku akan mengenang keluargaku ini ketika kudengarkan ulang CD ini kelak. Oh ya, jelas aku akan ingat. Malahan di beberapa lagu tadi malam aku merasakan mataku panas membayangkan aku akan meninggalkan keluargaku yang kucintai di sini.

Terputar lagu Esperando na Janela (Menanti di Ambang Jendela). Liriknya cantik sekali! Langsung kukatakan, lagu ini akan kunyanyikan untuk istriku di pernikahanku kelak. Dengarkan lagunya di bar sebelah kanan blog ini.

Musik memang membawa perasaan. Apalagi kalau musik yang diputar adalah musik yang ceria dan punya roh yang benar. Kami benar-benar gembira malam itu.

Di churrascaria, makanannya tidak terlalu spesial. Tipikal semua makanan Brazil lainnya: Enak tapi bikin ngap. Hanya mengagumkan saja melihat betapa banyak daging dari berbagai jenis dan teknik mengasapi diedarkan. Yang mengesankan kemarin malam adalah betapa keluarga keduaku ini begitu ingin meninggalkan kesan yang baik di malam terakhir aku tinggal bersama mereka. Berapa kali kedua orang tua memisahkan kedua anaknya yang berantem kecil, mereka mengambil foto meskipun anak-anaknya tidak suka... Dan ah, pokoknya mereka bersikap manis sekali kepadaku malam itu. Semakin membuatku berat rasanya meninggalkan mereka. Tidak sekalipun mereka berantem, berdebat, ataupun marah-marah parah malam itu. Yah, keluarga ini benar-benar bisa jadi manis kalau mereka berusaha.

Di bawah ini beberapa foto-foto istimewa malam itu.

Tiba di Churrascaria Herança. Felipe di balik kamera.

Potong daging, potong daging. Ketika kukatakan, "daging beredar", aku benar-benar maksudkan daging-daging itu BEREDAR!!

Giovanna, adik kecilku.

United we stand, united we feast!!

Dan semuanya kenyang...

Dan ini beberapa yang tidak terlalu istimewa.

Tiada hari tanpa random pictures!!

Dan waw, tinggal satu bulan lagi waktuku di Brazil. Perpisahan kecil dengan keluarga keduaku yang manis ini saja sudah terasa pedih, bagaimana nanti aku berpisah dengan segala yang sudah kukenal di negara ini? Negara yang tadinya begitu ingin kutinggalkan, kini mulai terasa ikatan-ikatan cinta di banyak tempat yang telah kujalin menarikku kembali. Yah, kesedihan nanti biarlah untuk nanti saja. Aku sudah minta pada-Nya agar sisa ini bermakna. Mau mulai menghitung hari.

Hari ini... Bosan di kelas seperti biasa. Siap-siap pindah rumah juga nanti sore. Mesti sibuk. Sudah dulu deh.

Monday, July 30, 2007

Antara Menangis dan Menghitung Sisa

Sore ini, tiba-tiba terkenang tentang delapan bulan lalu. Ketika tanah yang kujejak masihlah tanah merah bumi pertiwi. Ketika Indonesia kutinggalkan, dan air mata bertaburan untuk dan olehku. Pelukan dibuat dan dilepaskan. Hati terkoyak.

Kembali ingat betapa tangisku pecah di pelukan Mama. Betapa adikku tak hentinya menangisiku dan meragukan keberaniannya melepasku berhari-hari sebelum keberangkatanku. Papa yang tetap tegar dan menjadi sandaran mereka berdua. Teman-teman, oh teman-temanku, kalian tidak pernah tahu betapa aku dikuatkan dan juga dikoyakkan oleh keberadaan kalian!

Di gerbang akhir airport, tempat aku berjalan menjauhi keluargaku yang mengantarku, oh, tahukah kalian betapa matinya kakiku, betapa mereka menolak digerakkan jauh dari pandangan-pandangan kasih dan air mata mereka? Namun kakiku melangkah juga. Langkah kecil menuju kedewasaan.

Terduduk di pesawat. Air mata kuhapus perlahan. Macbook kunyalakan. Tulisanku yang pertama di atas pesawat lahir. Say Goodbye dari S Club 7 berdengung berulang-ulang, mewakili suara hatiku.

Hari bersejarah itu, tanggal 27 November 2007, hari yang disertai malam panjang penuh kesepian dan pedihnya hati, tapi keyakinan bahwa kami akan bertemu lagi suatu hari sambil tertawa dan menyambut peluk.

Yah, sebut aku seorang perenung dan nostalgis. Hampir air mata menetes lagi, betapa hati teriris mengenang malam sedih itu, betapa jauhnya aku dari mereka sekarang.

Tadi waktu mandi sore, aku teringat dan menyenandungkan lagu ini di tengah air yang suam dan udara yang membeku.

ajar kami Tuhan, menghitung hari-hari
agar kami beroleh hati bijaksana

ajar kami Bapa, hidup dalam jalan-Mu
agar semua rencana-Mu digenapi

mulialah nama-Mu Tuhan, dan ajaib jalan-Mu
bimbing kami di setiap waktu

besar setia-Mu Tuhan, agunglah karya-Mu
Yesus kami bersyukur pada-Mu

Entah bagaimana, hinu klasik yang ditulis Robert & Lea terekam di memoriku beberapa tahun lalu dan terputar indah kembali hari ini. Hari-hari ini, di saat rasa kangenku sedang kuat-kuatnya. Di saat hari kepulanganku sudah bisa terhitung.

Ya, kata itu. Hitung.

Di Brazil, rasanya begitu lambat waktu berlalu pada awalnya. Aku yang jauh dari mana-mana, kesepian, bagaikan bisu karena tidak mengerti Portugis, dan patahnya semangatku di mana seolah-olah seorangpun tidak mengertinya.

Lalu datang hari-hari sekolah. Hari-hari aku mulai membuka mulut dan berbicara, dengan Portugisku yang terbata-bata, bagaikan anak kecil yang belajar melangkah. Aku bangkit, melangkah perlahan, lalu mulai berlari.

Saat mulai berlari, seakan aku lupa menghitung. Jauh, jauh dan semakin jauh, dari berjalan, berlari, akupun terbang. Dan akhirnya tibalah aku di hari ini. Hari di mana aku melihat kembali ke belakang, mengamati jejak-jejakku yang kutinggalkan. Baik dalam memori di ingatan orang-orang, dalam jurnal-jurnal kertas dan elektronikku.

Sudah delapan bulan sekarang. Rasanya baru kemarin aku kehilangan pasport dan 900 US$ di Guarulhos, São Paulo, dan menemukannya kembali. Rasanya belum lama aku belajar Portugis, sepertinya masih kemarin aku datang, sebagai seorang putra Indonesia yang tidak berpengalaman, sangat kanak-kanak, dan lugu. Seperti baru beberapa minggu lalu aku diajak menginjakkan kaki di Califórnia. Sudah delapan bulan.

Seorang sahabatku baru-baru ini pindah ke Australia. Higher education, katanya. Belum sebulan dari empat tahun ia di sana, ia kangen berat dengan kami, dengan Indonesia. Berapa kali kudengar aduan dan sakitnya di Friendster, rindunya dengan makanan, teman-teman, dan hidupnya di Indonesia.

Mengingatkanku akan diriku, di awal-awal bulanku di tempat ini. Dulu aku begitu takut, khawatir akan ini itu, tapi puji Tuhan aku punya Tuhan yang mengasihiku. Aku lewati hari demi hari, kadang dengan kebingungan akan tujuanku, dan akhirnya tibalah pada sekarang.

Dan kini, satu bulan lagi. Lima minggu tepatnya. Sudah berapa jauh aku bertumbuh, aku tidak tahu. Hari-hari sudah terhitung. Tuhan tahu betapa aku rindu Indonesia. Rindu pulang, mengembalikan pelukan-pelukan cinta yang kubawa pergi tahun lalu, menghapus air mata dan penantian mereka dengan senyuman.

Tapi kembali terefleksi, apakah tujuan Tuhan terpenuhi dalam hidupku di tempat ini? Dalam banyak hal aku bertumbuh, dalam banyak hal aku mengembangkan cabang. Terbuka mata, terbuka telinga dan juga mulut, terhadap dunia. Bagai tanaman kecil, aku menguatkan akar-akarku dan bersiap menjadi pohon. Ataukah aku masih sebutir benih yang menolak pecah dan mati, untuk lahirnya tanaman baru?

Tuhan, biarlah sisa ini bermakna.

Sunday, July 22, 2007

kangen.

hmm. tadinya ingin menulis ini dalam bahasa inggris, tapi situasi tidak memungkinkan.

hmm. pengen ketik aja, aku sedang kangen. kangen aja sama mereka. sama sepasang orang. sama seorang yang lebih kecil. sama seseorang. seseorang lain, dan seseorang lagi, dan lagi, dan lagi, tidak terhitung banyaknya. mungkin seharusnya aku tidak bisa kangen sama salah satu seseorang itu. mungkin orang yang tidak kukangeni malah mengangeni aku setengah mati. mungkin aku tidak hanya kangen sama orang, tapi juga sama hidangan kuliner indonesia. komunitasku. semua.

ah, posting bodoh, posting kangen. tchau.

Saturday, July 21, 2007

Quiz, Quiz, Quiz...

Okay. Somebody not so long ago sent me to do this quiz, but I just forgot and today I re-read it at Amanda's blog, and I decided to just do it. Have a little fun after a long day. So here goes...

grab the book nearest to you, turn to page 18, and find line 4!
"Claramente, eu vi." Hahaha... It's a Portuguese book, titled A Menina que Roubava Livros (Book Thief)

stretch your left arm out as far as you can!
Some 'clicks' came out..

what is the last thing you watched on tv?
Salão de Barulha, Queen Latifah's movie. Title translated. English title, unknown.

without looking, guess what time it is!
Hmmm.. about 9.30?

now look at the clock. what is the actual time?
9.39. Haha good shot Sam!

with the exception of the computer, what can you hear?
Television sound system's high bass, from the TV room.

when did you last step outside?
I just got home actually... Went to my Brazilian great-grandparent's house for dinner.

what were you doing?
Had dinner.

before you started this survey, what did you look at?
My blog, other people's blog... Not much.

what are you wearing?
An old yellow sweater, an OP T-shirt, a jeans, a pair of socks, and my Chuck Brazilian Edition.

did you dream last night?
Hmm... Can't remember.

when did you last laugh?
I just did. Ha-ha-ha.

what are on the walls you are in?
What the...

seen anything weird lately?
This quiz.

what do you think of this quiz?
Whatever...

what is the last film you saw?
Salão de Barulha.

if you became a multi-millionaire overnight, what would you buy?
I'd invest on stocks, gold, open a multi-national clothing company (look out adidas, nike, here I come!), get houses for my parents and my family, but most importantly, do all that silently. Nobody could know about my money. Haha!

tell me something about you that i don't know.
I love barbecue? Weird question...

if you could change one thing about the world, regardless of guilt or politics, what would you do?
Hmmm... The morality. I would like to see the standard of morality of this world raise up again.

do you like to dance?
Depends...

imagine your first child is a girl, what do you call her?
Hmm... 'Cece' would do.

imagine your first child is a boy, what do you call him?
'Koko' would do. Hahaha how uncreative I am... Well don't blame me, I'm not married yet...

would you ever consider living abroad?
I surely am. I love travelling.

what do you want God to say to you when you reach the pearly gates?
"I have been waiting for you, Samuel. You did a good job, son. Come and join your Father's happiness. I had a big party just for you!"

Monday, July 16, 2007

My Brazilian Birthday Story

Okaayy!! Aku akan menulis dengan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar kali ini... Capek juga ngepost Inggris terus.

Sahabat-sahabat, Samuel Ray Limas baru saja ulang tahun. Tanggal 15 Juli 2007 lalu, memasuki usianya yang ke-18. Ulang tahun pertamanya di luar negara dan pelukan orang-orang tercintanya. Tapi puji Tuhan, karena pemeliharaan-Nya dia tetap bisa merasakan kasih sayang dari sahabat-sahabat barunya di Brasil, yang Tuhan kirimkan untuk mewarnai ulang tahunnya lebih indah.

Jadi, tanggal 15 Juli pagi hari, Rotary sudah menyiapkan satu barbecue besar di ranch-nya Diogo, salah satu member club. Barbecue yang sebenarnya tidak spesial diadakan untukku, tapi memang sudah merupakan tradisi keluarga Rotary Club Califórnia untuk bertemu dan mengadakan hari keluarga di barbecue itu setiap sekian bulan sekali. Tepat juga hari itu ulang tahunku. Jadi mereka siapkan tiga kue, bertumpuk-tumpuk daging dan sosis, soda dan bir dingin untuk pesta kami.

Dan hari itu benar-benar asyik dan seru. Kami pulang pesta lebih awal, karena keluarga inang pertamaku bilang mereka mau adakan pesta kecil lagi di rumah mereka untukku. Di rumah mereka aku dibuatkan "fundi", sejenis kudapan Italia terbuat dari buah-buahan dan keju yang dipotong kecil-kecil dan dimakan sambil dicelupkan ke dalam coklat yang dilelehkan. Enak! Banyak sepupu-sepupu Brasilku datang, dan kami berpesta kecil dengan makanan itu. Hari itu dingin, tapi jadi hangat dengan kedatangan sahabat-sahabat dan keluarga. Aku tinggal di sana hari itu, menginap satu malam. Hari diakhiri dengan turnamen Mario Party di Gamecube mereka.

Ulang tahun yang indah. Aku dapat hadiah dua pesta yang seru, dan celana jeans dari keluarga pertamaku. Hadiah lainnya adalah ucapan selamat dan dukungan tak terkira banyaknya dari teman-teman di orkut, friendster, dan pembaca-pembaca blog ini. Terima kasih semuanya! Kalian, meskipun jauh, telah mewarnai ulang tahunku lewat kepedulian kalian di dunia maya!

Untuk berbagi sedikit gambaran sukacita yang kunikmati hari itu, Di bawah ini kutampilkan slide foto dan beberapa foto penting di hari ulang tahunku. Maaf kalau terlalu banyak foto, aku tahu internet Indonesia yang lambat. Tapi memori ini terlalu indah untuk kusimpan sendiri.









Haha, ceritaku belum habis! Beberapa hari setelah aku ulang tahun, Mama dan aku bertukar cerita lewat Windows Live Messenger. Beliau, seperti semua Mama yang baik, mengucapkan selamat ulang tahun. Kami ngobrol dan bertukar cerita. Di akhir ceritaku tentang gemerlap dan indahnya ulang tahunku di negara orang ini, beliau bertanya, "Apa yang jadi perenunganmu di ulang tahun ini, Samuel?"

Aku tertegun merenung. Benar-benar merenungkan ulang tahunku adalah hal terakhir yang ada di dalam pikiranku. Ulang tahun di luar negeri, jauh dari rumah dan orang-orang yang kukasihi, membuatku lupa bahwa aku terus menua, dan harus seiringnya menjadi dewasa.

Kujawab jujur pada beliau, bahwa aku tidak memikirkan satupun perenungan kedewasaan dalam ulang tahunku hari ini. Dalam hati aku merasa sudah bertumbuh banyak, dan rasanya tidak perlu mengembangkan apapun lagi di usiaku yang kini 18 tahun. Beliau dengan bijak menjawab, "Setiap kali kamu semakin tua, harus ada yang menjadi perenunganmu. Jangan lupakan perenungan dan kerendahan hati di tengah-tengah gemerlapnya hidup yang kau jalani sekarang..."

Pagi ini aku berbincang-ketik dengan seorang mantan teman kostku. Aku bicara padanya tentang visi dan masa depan. Dia bicara padaku tentang orang tuanya yang tidak ingin dia mengejar mimpi keluar negeri. Takut, katanya. Aku bicara lagi tentang mempunyai mimpi. Dan bertanyalah dia dengan polos, "mimpi lu apa sih Sam?"

Sekali lagi aku tertegun. Setelah Brazil, mau kemana kamu? Bukan berarti pencapaian yang tinggi ini, berani ke luar negeri sendiri dan lain-lain, lalu dengan pujian dan sahutan kekaguman teman-temanmu, kamu bisa berhenti BERMIMPI!!

Kujawab temanku dengan tergagap, menceritakan sedikit rencana masa depanku. Mimpi, aku punya. Tapi jujur aku belum mengejarnya dengan sungguh-sungguh hari-hari ini. Kuhabiskan waktu di depan internet dan komputer, apa yang mesti kukerjakan tidak kupenuhi, dan meskipun aku ingin setengah mati dapat beasiswa ke Jepang, aku tidak membantu Mamaku melengkapi aplikasinya. Hanya setengah hati saja. Sampai beliau mesti marah dan mendesak-desakku bergerak. Maafkan aku ya Ma!

Kembali Tuhan menunjukkan kasih setia-Nya padaku. Ia terus memberikan arahan, cinta, dan dorongan-Nya lewat hal-hal yang tidak kusangka-sangka. Di saat aku malas dan tidak mau bergerak, Dia menegurku lewat orang-orang di sekitarku. Aku bersyukur punya Tuhan seperti-Nya.

Teman-teman, Tuhan itu ada. Tuhan hidup, Tuhan nyata, Tuhan itu sekarang, dan Dia rindu berbicara denganmu. Atau mungkin Dia sudah mulai berbicara dan mengetuk pintu hatimu, sejak lama. Tapi untuk mendengar-Nya, sulit bagimu, karena dunia ini terlalu berisik. Terlalu banyak suara. Tenangkan hati, kawan. Dengarkan Tuhan mengarahkan hidupmu.

Thursday, July 12, 2007

A Man After My Own Heart

"I have found David the son of Jesse,
a man after My own heart,
who will do all My will."
(acts 13:22)


A new post, a new day!

Friends, these days I have been reading a lot from the book of Psalms. And something somehow urged me to write, about the great king that made this book, king David.

Writing here doesn't mean I will be talking about his biography, how many cities he had won, how big his kingdom is, but I will talk today about his relationship with The Almighty.

David wrote the biggest book of songs in the bible. After Psalms there is Solomon's Songs of Solomon, but David's book were wider and deeper about God.

As I flipped through the book of Psalms, I found how normal David was. He got tired, he got physically ill, he could be afraid of his enemies, and sometimes he even got disappointed with God. As a king that ruled a great region, David had lots of problems. I imagined being him on his days, and all I saw was a great responsibility of ruling a great country. I imagined how David must kept his wisdom sharp, how he had to be alert of enemy threat all of the time, he had to train his soldiers, feed his people, and keep the country prospering. Only on thought of that made me shiver, thinking how difficult it must've been.

But reading through the book over and over, I never found any single sentence of being disappointed in following God. Yes he got tired, yes he got pursued by his enemies, but through all that, David never ever blame God. On every end of his Psalm, he thanked God, wrote how in awe he was of his God, no matter how hard the situation is, he kept believing that God is big and faithful, and will get him out of everything in His time, no matter what.

How submitted he was, was shown in Psalm 16:8, for example. David wrote,

Keep me as the apple of Your eye; Hide me under the shadow of your wings.

And I thought to myself, how could he be so sure and secure?

David was 100 percent certain that God will take care of his life. Why? The answer came right away: David lived in a manner of pleasing God.

David knew that without God he would be nothing, and that he couldn't go alone. As great as a king, he never forgot that God was in total control of His life. He knew that if his way of life is pleasing God, God will bless him and expand him, making his life fruitful. And in David's case, God expanded his kingdom and treasuries.

How far did David went in pleasing God? We got to our first lesson. David went undivided. He gave all of him. As I gazed back to the Bible, as long as I can remember, it was only David that was brave enough to say these words in Psalm 16:3:

You have tested my heart;
You have visited me in the night;
You have tried me and found nothing;
I have purposed that my mouth shall not transgress.

And repeated in Psalm 26, and 139:23, that David kept daring God to test his heart and see his motives, for he knew that he lived according to God's righteousness.

The second thing I learned from David, what made him so faithful to God, was how he understood that following God is not always an easy way. As I wrote earlier, David encountered difficulties, lost in battles, death of his children, and all that gave him reason to be upset and angry with God.

Yet, he didn't.

David knew this. (Psalm 119:75)

I know, O Lord, that Your judgments are right,
And that in faithfulness You have afflicted me.

David knew he was serving a faithful God, that was fair and just, and that the difficulties he was facing was a way of God to made him mature. So faced with problems, yes it brought him down, yet he didn't choose to stay on the floor. But he learned from what he faced, and be wiser and closer to God with it.

The final thing I saw in David was, that he saw God's word as the source of his strength. He knew that he would perish and be nothing without God's word (Psalm 119:92-93), He knew that God's word gave him wisdom (Psalm 119:98-100), and so proud and in love with God's word, David even dared that he could testify of it in front of kings and will not be ashamed (Psalm 119:46).

He loved God's word, and meditated on it, gave him strength and ability to do what God wanted him to do, to decide what was right and to stay faithful to God.

This, friends, is a wonderful way of living. On David's era, he lived under the law of torah, which demanded more and knew no forgiveness in any way. Yet he decided to live flawless before God, pleasing him in all that he did. Shouldn't we be ashamed, as we live after the death of Jesus Christ, after His blood was shed for our forgiveness, heiyet we still cannot live the way David lived, blameless and pure?
David's way of life was a way that pleased God. He was so pleased that He called him a man after My own heart. This is the lifestyle we should pursue. Lifestyle of covenant, lifestyle that pleases God. Would it be an amazing feeling, having the Creator of this world calling you a man after His own heart?

As I reflect now, living radically for God and worldly, will both make you tired. If you follow the lifestyle of this world, having a "free" way of living, following trends, modes, feeling insecure all the time, that will toast up your energy. As David, if you would choose to follow God differently and radically, burn in a higher level than before, you will still face problems, you will still be tired. But the difference from living in the way of this world is, you will have a great God that would take care of you. He would sustain you and keep you safe, for He had promised in Isaiah 49:15:

"Can a woman forget her nursing child,
And not have compassion on the son of her womb?
Surely they may forget,
Yet I will not forget you."

On this promise, David, Samuel, Ruth, and many other amazing people of God written and unwritten on the Bible had stand. I will stand on this promise, letting God work in His way, knowing that I am unforgettable to Him.

And I am happy, although most of the times I still cannot see what God is planning. I am content and patient, waiting God's way to be opened. I dare you today to do the same. Follow God like David. Follow God undivided.