Showing posts with label doa. Show all posts
Showing posts with label doa. Show all posts

Monday, July 30, 2007

Antara Menangis dan Menghitung Sisa

Sore ini, tiba-tiba terkenang tentang delapan bulan lalu. Ketika tanah yang kujejak masihlah tanah merah bumi pertiwi. Ketika Indonesia kutinggalkan, dan air mata bertaburan untuk dan olehku. Pelukan dibuat dan dilepaskan. Hati terkoyak.

Kembali ingat betapa tangisku pecah di pelukan Mama. Betapa adikku tak hentinya menangisiku dan meragukan keberaniannya melepasku berhari-hari sebelum keberangkatanku. Papa yang tetap tegar dan menjadi sandaran mereka berdua. Teman-teman, oh teman-temanku, kalian tidak pernah tahu betapa aku dikuatkan dan juga dikoyakkan oleh keberadaan kalian!

Di gerbang akhir airport, tempat aku berjalan menjauhi keluargaku yang mengantarku, oh, tahukah kalian betapa matinya kakiku, betapa mereka menolak digerakkan jauh dari pandangan-pandangan kasih dan air mata mereka? Namun kakiku melangkah juga. Langkah kecil menuju kedewasaan.

Terduduk di pesawat. Air mata kuhapus perlahan. Macbook kunyalakan. Tulisanku yang pertama di atas pesawat lahir. Say Goodbye dari S Club 7 berdengung berulang-ulang, mewakili suara hatiku.

Hari bersejarah itu, tanggal 27 November 2007, hari yang disertai malam panjang penuh kesepian dan pedihnya hati, tapi keyakinan bahwa kami akan bertemu lagi suatu hari sambil tertawa dan menyambut peluk.

Yah, sebut aku seorang perenung dan nostalgis. Hampir air mata menetes lagi, betapa hati teriris mengenang malam sedih itu, betapa jauhnya aku dari mereka sekarang.

Tadi waktu mandi sore, aku teringat dan menyenandungkan lagu ini di tengah air yang suam dan udara yang membeku.

ajar kami Tuhan, menghitung hari-hari
agar kami beroleh hati bijaksana

ajar kami Bapa, hidup dalam jalan-Mu
agar semua rencana-Mu digenapi

mulialah nama-Mu Tuhan, dan ajaib jalan-Mu
bimbing kami di setiap waktu

besar setia-Mu Tuhan, agunglah karya-Mu
Yesus kami bersyukur pada-Mu

Entah bagaimana, hinu klasik yang ditulis Robert & Lea terekam di memoriku beberapa tahun lalu dan terputar indah kembali hari ini. Hari-hari ini, di saat rasa kangenku sedang kuat-kuatnya. Di saat hari kepulanganku sudah bisa terhitung.

Ya, kata itu. Hitung.

Di Brazil, rasanya begitu lambat waktu berlalu pada awalnya. Aku yang jauh dari mana-mana, kesepian, bagaikan bisu karena tidak mengerti Portugis, dan patahnya semangatku di mana seolah-olah seorangpun tidak mengertinya.

Lalu datang hari-hari sekolah. Hari-hari aku mulai membuka mulut dan berbicara, dengan Portugisku yang terbata-bata, bagaikan anak kecil yang belajar melangkah. Aku bangkit, melangkah perlahan, lalu mulai berlari.

Saat mulai berlari, seakan aku lupa menghitung. Jauh, jauh dan semakin jauh, dari berjalan, berlari, akupun terbang. Dan akhirnya tibalah aku di hari ini. Hari di mana aku melihat kembali ke belakang, mengamati jejak-jejakku yang kutinggalkan. Baik dalam memori di ingatan orang-orang, dalam jurnal-jurnal kertas dan elektronikku.

Sudah delapan bulan sekarang. Rasanya baru kemarin aku kehilangan pasport dan 900 US$ di Guarulhos, São Paulo, dan menemukannya kembali. Rasanya belum lama aku belajar Portugis, sepertinya masih kemarin aku datang, sebagai seorang putra Indonesia yang tidak berpengalaman, sangat kanak-kanak, dan lugu. Seperti baru beberapa minggu lalu aku diajak menginjakkan kaki di Califórnia. Sudah delapan bulan.

Seorang sahabatku baru-baru ini pindah ke Australia. Higher education, katanya. Belum sebulan dari empat tahun ia di sana, ia kangen berat dengan kami, dengan Indonesia. Berapa kali kudengar aduan dan sakitnya di Friendster, rindunya dengan makanan, teman-teman, dan hidupnya di Indonesia.

Mengingatkanku akan diriku, di awal-awal bulanku di tempat ini. Dulu aku begitu takut, khawatir akan ini itu, tapi puji Tuhan aku punya Tuhan yang mengasihiku. Aku lewati hari demi hari, kadang dengan kebingungan akan tujuanku, dan akhirnya tibalah pada sekarang.

Dan kini, satu bulan lagi. Lima minggu tepatnya. Sudah berapa jauh aku bertumbuh, aku tidak tahu. Hari-hari sudah terhitung. Tuhan tahu betapa aku rindu Indonesia. Rindu pulang, mengembalikan pelukan-pelukan cinta yang kubawa pergi tahun lalu, menghapus air mata dan penantian mereka dengan senyuman.

Tapi kembali terefleksi, apakah tujuan Tuhan terpenuhi dalam hidupku di tempat ini? Dalam banyak hal aku bertumbuh, dalam banyak hal aku mengembangkan cabang. Terbuka mata, terbuka telinga dan juga mulut, terhadap dunia. Bagai tanaman kecil, aku menguatkan akar-akarku dan bersiap menjadi pohon. Ataukah aku masih sebutir benih yang menolak pecah dan mati, untuk lahirnya tanaman baru?

Tuhan, biarlah sisa ini bermakna.

Tuesday, July 3, 2007

Tuhan...

Tuhan,

Sekarang jam setengah dua belas malam. Tadi kuputuskan berdoa di kamar tapi kurasa tidak akan khusyuk, jadi kutuangkan hatiku di sini saja.

Aku sedang kangen sekali dengan rumah. Yah, aku tahu ini topik yang sudah keluar berulang kali, tapi tetap saja hari-hari ini kembali terangkat lagi. Aku kangen dengan Indonesia, keluargaku, gerejaku, teman-temanku, semuanya.

Setelah ngobrol sama Papa dan Mama kemarin malam, banyak hal baru terbukakan juga. Aku melihat Engkau melakukan banyak perubahan dalam hidup mereka, mereka punya tujuan hidup yang lebih jelas, dan masing-masing pelan-pelan menyadari bagiannya dalam membangun kerajaan-Mu.

Juga terkenang kembali teman-teman di Indonesia. Mereka yang kutinggalkan, mereka yang mungkin tidak akan kutemui lagi untuk empat tahun ke depan... Mereka yang kusakiti dan belum kumintai maaf. Mereka yang jatuh bangun dan tidak sempat kupapah. Tuhan, aku merasa aku harus segera kembali untuk mereka semua. Tidak kulihat orang lain yang bisa mengisi peranku di hati mereka. Tidak menyombong, tapi aku merasa aku bisa membuat perbedaan dalam hidup mereka hanya dengan sekedar tinggal di dekat mereka.

Meskipun konyol, rasanya juga aku rindu makanan Indonesia. Tadi siang aku masak mie instan, dan aku rindu dengan mie instan Indonesia, yang meskipun bahan penyusunnya nggak jelas, tapi enak. Mie di sini tidak ada rasanya, Tuhan. Untuk membuat pedas mie yang tadi siang, harus kumasukkan lima sendok sambal. Itu untuk ukuranku yang tidak kuat pedas lho. Lima sendok sambal di sini rasanya hanya asin-asin kecut saja.

Melayani-Mu di tempat ini rasanya melelahkan. Sering kali aku menemukan hal-hal baru dalam perjalananku dengan-Mu, tapi untuk membagikannya ke orang lain, kesulitanlah yang kutemukan. Bahasaku tidak maksimal, keberanianku berbicara masih Engkau pupuki, dan Tuhan, entah kenapa aku terus menerus gugup. Aku melihat mereka yang sepertinya tidak butuh Engkau. Ke gereja masuk, ke diskotik ayo juga. Masuk gereja, tapi berhubungan tidak murni dengan lawan jenis. Dan sepertinya mereka suka hal itu. Saat kuceritakan tentang kemurnian hubungan, tidak tahu apa pandangan mereka terhadapku. Tuhan, mereka tidak mau maju! Malam ini Tuhan, aku berdoa untuk orang-orang ini. Bukakan mata mereka. Tuhan, lakukan sesuatu di tanah kering ini.

Dan aku rindu Engkau. Aku pengin nyanyi di gereja dengan hati yang satu, sekali lagi. Aku ingin ngerasa Engkau ada Tuhan. Sekarang ini rasanya Engkau begitu jauh, Engkau begitu di sana, dan aku harus sendiri di sini mencari kehendak-Mu sampai lelah. Mungkinkah aku harus beristirahat di dalam Engkau?

Tuhan, aku rindu rumah. Itu lagi. Tolong aku melewati kurang dari tiga bulan terakhir ini. Aku mengasihi-Mu. Amin.